top
   
 
PUTERA KELAHIRAN AILEU TIMOR LESTE LIRIK KURSI NOMOR SATU BELU

Atambua-SI. Drs. Basílio Dias Araujo, MA, adalah salah seorang putra terbaik Timor yang telah melanglang buana keliling dunia dalam tugas kedinasannya sebagai Pegawai Negeri Sipil.

Hampir 5 (lima) benua di dunia ini telah disinggahinya (Afrika, Amerika, Australia, Inggeris, Jerman, Belanda, Swiss, Portugal, Spanyol, Italy, Perancis, Swedia, Belgia, Ukraina, Malaysia, Singapura, Kamboja, Karibia dan Puerto Rico).
 
Putra Timor yang lahir di Aileu, Timor Timur pada tanggal 3 Maret 1964  itu, mengawali karir kedinasannya sebagai tenaga honorer pada  Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Timor Timur setelah lulus dari Sekolah Teknik Fatumaka di Baucau.
“Ketika lulus dari Sekolah Teknik Fatumaka, semua kami sudah didaftarkan untuk menjadi PNS”, kenang Basilio ketika tahun 1984 direkrut untuk menjadi PNS karena pada waktu itu belum banyak lulusan SMP atau SMA untuk mengisi kekosongan kebutuhan PNS di Timor Timur. “Pagi saya kerja di PDAM Dili, lalu sore saya melanjutkan SMA Portugis di Liceu de S. Jose Balide, di Dili, Timor Timur sampai akhirnya lulus  5º Ano do Liceu pada tahun 1985 (sederajat SMA Indonesia)”, lanjut Basilio mengkisahkan kembali riwayatnya meniti karir di bidang Pemerintahan.

Pada tahun 1986 Basilio mendapat satu kejutan dalam hidupnya. Dia lolos dalam seleksi dari Timor Timur untuk ikut program pertukaran Pemuda Indonsia-Kanada. Sayang sesampai di Jakarta ada mahasiswa Timor Timur yang minta suaka politik di Kedutaan Belanda, akhirnya Basilio tidak diberangkatkan. Namun sampai hari ini teman-temannya masih tetap menganggapnya sebagai salah satu alumni Pertukaran Pemuda Indonesia-Kanada angkatan 1986. Gagal berangkat ke Kanada, Basilio mendaftarkan diri untuk kuliah di Jakarta di Fakultas Sastra Universitas Kristen Indonesia.

Pendaftaran kuliah ini pun dibantu oleh satu keluarga Batak bernama Firman Sihombing yang pada waktu itu kerja di Kedutaan Besar Amerika di Jakarta dan dosen di UKI karena pada waktu itu sudah bulan September dan semua unversitas di seluruh Indonesia sudah mulai perkuliahan. “Tapi syukur kepada Tuhan”, kenang Basilio, akhirnya bisa diterima di UKI, Jakarta. Pada tahun 1991 lulus dari Fakultas Sastra UKI dan sambung kerja pada Kantor Konsultan Hukum Kartini Muljadi, SH (suatu kantor Konsultan ternama di Jakarta yang berkantor di bilangan segi tiga emas – Kuningan, Jakarta).

Pada tahun 1995 sekali lagi Basilio mendapatkan kejutan karena lolos dari seleksi beasiswa Chevening Award dari Pemerintah Inggeris mengalahkan lebih dari 7.000 calon dari Jakarta. Beasiswa ini tergolong bergengsi karena banyak yang mendaftar, tapi hanya sedikit yang diterima. “Saya bangga bisa mengalahkan lebih dari 7.000 calon penerima beasiswa dari Jakarta karena pada waktu itu saya masuk dari seleksi Jakarta”, tutur Basilio dengan bangga.

Basilio melanjutkan pendidikan Strata Dua (S2) dalam bidang Teori Kritik (Master of Arts in Critical Theory) di The Manchester Metropolitan University, UK, dan lulus pada tahun 1997. Setelah lulus dari Inggeris, Basilio kembali ke Timor Timur dan bekerja pada kantor Badan Koordinasi Penanaman Modal Daerah (BKPMD) Provinsi Timor Timur sekaligus bertindak sebagai penterjemah resmi Gubernur Abilio Soares (Alm.) dan Danrem Wira Dharma Timor Timur.  

Pada waktu bekerja pada  kantor BKPMD, Basilio berhasil melakukan negosiasi dengan perusahaan minyak Broken Hills Petroleum (BHP) untuk menjadikan Kabupaten Covalima sebagai Supply Base Camp untuk kegiatan BHP di laut lepas Timor Gap. “Saya heran kenapa setelah merdeka, malah Pemerintah Timor Leste gagal lobby perusahaan-perusahaan minyak yang bergerak di Timor Gap untuk menjadikan Covalima sebagai Supply Base Camp”, lanjut Basilio.

Pada tahun 2000, ketika masih menjadi staff di kantor Kota Kupang, terjadi lagi kejutan yang menggemparkan karena tiba-tiba ditelepon oleh staff khusus Mendagri Soerjadi Soedirdja yang ternyata memintanya menjadi penterjemah Mendagri. “Saya kaget karena pada tahun 2000 itu saya masih tercatat sebagai pegawai Kota Kupang, tapi tiba-tiba saya ditelepon Staff Khusus Bapak Mendagri Soerjadi Soedirdja dan diminta untuk menjadi penterjemah Menteri. Saya kaget luar biasa dan hampir tidak percaya kenapa seorang anak kampug seperti saya bisa dipanggil ke Jakarta untuk dijadikan penterjemah Menteri. Saya hampir tidak percaya”, tutur ulang Basilio dengan haru. Tapi itulah terakhir kali Basilio berkarya untuk pulau Timor dan sejak tahun 2000, Basilio pindah ke Jakarta memulai karir baru sebagai staf Kemendagri (Depdagri pada waktu itu).

Sepertinya kehidupan anak Timor satu ini tidak henti-hentinya mendapat kejutan, karena pada tahun 2005, sekali lagi Basilio mendapat kejutan baru karena diminta Duta Besar RI untuk Lisabon untuk bergabung dengan misinya ke Lisabon untuk dijadikan staff khusus Duta Besar. “Ini adalah kejutan baru, dan saya tidak sangka Mendagri pada waktu itu – Bapak Ma’aruf bisa melepaskan saya, tapi ternyata beliau melapaskan saya untuk bergabung dengan misi Duta Besar Lopes da Cruz di Lisabon selama tiga setengah tahun (September 2005-Januari 2009). Saya hanya tahu alasannya kemudian, karena ternyata Mendagri Ma’aruf juga pernah jadi Dubes dan tidak bisa menolak ketika diminta oleh teman sejawatnya”, kenang Basilio tentang lika-liku hidup dalam karirnya.

Singkat kata, Basilio kembali ke Kemendagri setelah selesai misinya di Lisabon pada awal tahun 2009. Di Kemendagri pun Basilio telah melakukan berbagai Tour of Duty, mendapat beberapa jabatan di Ditjen Kesbanpol, lalu pindah ke Biro Organisasi di Setjen menangani restrukturisasi organisasi Perangkat Daerah hampir di 250 Kabupaten/Kota di Indonesia, lalu pindah ke Pusat Administrasi Kerjasama Luar Negeri dan sekarang menjabat sebagai Kepala Bidang Kerjasama Lembaga Keuangan Internasional dan Organisasi Internasional yang khusus menangani pinjaman dan hibah luar negeri yang diteruskan ke Pemerintah Provinsi, Kabupaten dan Kota.

Ketika ditanya alasan apa yang membawa beliau untuk ingin mencalonkan diri sebagai Bupati Belu 2014-2019, beliau hanya menjawab singkat bahwa itu hanyalah semata panggilan karena jabatannya cukup strategis di Kemendagri dan bahkan ada Dirjen yang memarahinya dan mengatakan dia goblok karena memilih pindah dari pusat kekuasaan ke suatu daerah di pelosok dunia. Lalu ketika ditanya apa yang akan dia sumbangkan untuk Kabupaten Belu, dia hanya mengatakan bahwa dia akan menjadikan “Kabupaten Belu sebagai Serambi Indonesia di Bagian Timur Indonesia”, selain dari itu masih rahasia perusahaan, karena belum waktunya kampanye. Tapi dia siap maju. (Anis Ikun)

Berita terkait
Kategori : Atambua, Tanggal Post : Wed, 29 Aug 2012 20:37:08 PM, Kontributor : Anis, Dibaca : 662 Kali.
Tinggalkan Komentar :
Komentar yang masuk untuk berita ini [ 0 ]
Isi komentar anda :
Nama :
e-Mail :
Website : http:// (Opsional)
Komentar anda :
Maksimal 200 karakter
Kode Security :
Reload Image
Ulangi kode diatas
   
 
iklan
iklan
iklan
Pengunjung
visitor Sedang Online : 75
visitor Pengunjung hari ini : 366
visitor Pengunjung bulan ini : 35655
  Total : 154